Pada umumnya orang tua menginginkan anaknya berprestasi di sekolah. Namun kenyataannya tak semua anak dapat menjadi juara kelas. Ada stigma bahwa jika orang tuanya jadi dokter, anakanya juga harus menjadi dokter, bahkan yang lebih sukses. Jika orang tuanya jadi Doktor anaknya harus menjadi profesor. Terkadang ekspektasi orang tua sangat tinggi sehingga membebani anak. Apakah pernah terpikir oleh kita sebagai orang tua, supaya anak kita bisa hidup dengan bahagia dan bermanfaat di kemudian hari? Tak harus jadi sama dengan kita, tak harus jadi profesi yang mentereng, selama dia hidup di dunia untuk menebar manfaat dan dia bahagia dengan itu maka itu adalah karunia terbesar bagi orang tua. Masalah prestasi, kita juga tak perlu khawatir jika mereka tak menjadi juara kelas. Kita perlu kenali potensi yang dia miliki. Kita tidak pernah tahu kelak dia akan menjadi apa. Bisa jadi dia adalah calon pesepak bola dunia? atau fotografer penjelajah dunia? atau bahkan seorang pembalap Moto GP?
Dewasa ini banyak profesi yang menjanjikan penghasilan tinggi namun tidak banyak diminati. Terutama seringkali tidak mendapat restu dari para orang tua. Contohnya adalah Professional Chef. Untuk menjadi seorang Professional Chef, seseorang tidak perlu harus baik dalam matematika, biologi, ataupun kimia. Yang perlu dilakukan adalah menekuni skill memasak, mengikuti pelatihan, course, atau lembaga pendidikan kemudian meniti karir dari mulai chef de partie, sous chef, head chef, sampai executive chef. Selain itu saat ini pekerjaan menjadi konten kreator tidak dapat dipandang sebelah mata. Para konten kreator itu dapat menghasilkan puluhan hingga ratusan juta per bulan. Namun tentunya pekerjaan juga tidak membutuhkan keahlian di bidang akademik yang tinggi. Yang terpenting adalah kreativitas dan kemampuan mengeksplorasi konten menjadi menarik. Yah, saya rasa selama konten tersebut bermanfaat dan tidak melanggar norma, maka itu boleh-boleh saja. Namun nyataanya, para orang tua akan alergi dengan pekerjaan-pekerjaan semacam ini.
Banyak orang tua yang depresi karena ia terus membanding-bandingkan anaknya dengan anak orang lain. Akhirnya ia seringkali meluapkan emosi dan bersikap buruk terhadap anaknya. Ia lupa, anak itu sendiri adalah karunia yang tak dapat digantikan oleh apapun. Padahal anak adalah amanah besar yang harus dijaga dan harus kita syukuri. Seberapapun kurangnya anak kita, ia tetap darah daging kita. Itulah kenapa pentingnya kita mengenali potensinya sejak dini, sehingga kita bisa mendorong dan mengarahkan dia kepada profesi yang memang menjadi bidang keahliannya. Dengan demikian peluang anak tersebut untuk menjadi sukses menjadi lebih besar.
Ada anak yang hidup dari kecil hingga dewasa terus menerus menjadi budak ambisi orang tuanya. Kamu harus ini harus itu, harus ikut ini harus ikut itu, tidak boleh begini tidak boleh begitu. Padahal sejatinya dia punya passion sendiri yang bisa jadi selama ini ia pendam. Akhirnya ia hanya akan bekerja sekedar untuk memenuhi kewajibannya saja, dia bahkan kehilangan rasa cinta kepada orang tuanya. Ia jadi seperti robot, yang terbiasa menerima dan melaksanakan perintah. Padahal seharusnya, ia menjadi manusia yang punya kebebasan. Kebebasan memilih harus jadi apa dia nanti pada saat dewasa. Tugas orang tua adalah mengarahkan dan memberi batasan. jadi, karir apapun yang mereka tempuh selama tidak melanggar batasan itu kita tidak berhak untuk melarangnya. Meskipun memang ada beberapa profesi yang bertentangan dengan sebagian norma dan agama, kita perlu menjelaskan hal tersebut kepada anak. Namun diluar sana masih banyak profesi “elite” yang bahkan kita tidak pernah tahu kalau profesi semacam itu ada.
So, kenali potensi si kecil sejak dini, syukuri! dan jadilah mentor terbaik untuk mereka!
Be Grateful!

0 Comments