Gelombang Ketiga Covid-19 di Indonesia? Jangan Gelisah!

by | Inspirasi

Apa kabar sobat gratefulheart.id? Tak terasa pandemi telah memasuki tahun ketiga. Dan dikabarkan di berbagai media Indonesia kita tengah memasuki gelombang ketiga covid-19. Pandemi covid-19 yang berkepanjangan ini tentu sangat meresahkan dan telah memberikan dampak yang luar biasa kepada kehidupan kita. Banyak yang kehilangan pekerjaan, kehilangan mata pencaharian, usahanya bangkrut, ada yang di-PHK, dan ada yang berduka karena ditinggalkan orang yang dicintainya. Dampak yang paling meresahkan adalah bagaimana pandemi ini membuat ekonomi pelbagai kalangan masyarakat luluh lantak. Para pengusaha terpaksa menutup banyak cabang dan kiosnya, para pedagang kecil tak bisa berjualan, aset-aset terpaksa dijual untuk mencukupi kebutuhan hidup. Tak cukup disitu, rakyat yang kian terjepit, mengharapkan bantuan dari pemerintah, namun nyatanya masih ada saja oknum yang memanfaatkan kesempatan saat kesempitan. Bisa-bisanya ada oknum yang melakukan tindak korupsi terhadap dana bantuan sosial yang seharusnya digunakan untuk meringankan penderitaan rakyat.

 

Apa yang harus kita lakukan di kala pandemi ini?

Yang paling utama adalah membangun mindset positif. Kita harus meyakini selalu ada hikmah dibalik musibah. Tuhan tidak akan memberikan ujian di hidup kita tanpa ada maksud dbalik itu semua. Meskipun kita kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, tapi setidaknya kita masih memiliki kesehatan dan kesempatan untuk hidup. Dunia belum kiamat! Kita masih bisa melihat terangnya sinar mentari dipagi hari, kita masih bisa melihat indahnya bunga yang mekar dikala bersemi, kita masih bisa melihat eloknya kupu-kupu yang terbang kian kemari. Ingatlah! Meskipun kehidupan kita sulit, setidaknya kita masih lebih baik daripada para pengungsi korban erupsi Gunung Semeru, yang kehilangan tempat tinggal dan seluruh hartanya. Nasib kita masih jauh lebih baik daripada korban gempa Majene, yang bingung bagaimana mau melanjutkan hidup mereka. Kita masih perlu bersyukur, atas nikmat karunia-Nya yang melimpah yang masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Kita masih bisa menikmati listrik, makan kenyang, transportasi, dan masih banyak hal lainnya.

 

Merubah Pola Hidup Menjadi Lebih Efisien

Sejatinya manusia dapat hidup hanya dengan mencukupi kebutuhan primer. Sandang, pangan, papan. Selama kita masih bisa makan, memiliki pakaian, dan tempat untuk tinggal maka hidup kita baik-baik saja. Sayangnya, kita sudah terlanjur hidup dengan banyak keinginan asesoris, sehingga seolah-olah biaya hidup kita menjadi tinggi. Jadi di saat pandemi, jika penghasilan kita turun, kita tidak harus berupaya menambah sumber penghasilan kita, tapi justru kita menurunkan gaya hidup kita dan memangkas pengeluaran kita. Sadar atau tidak kita terbiasa dengan pola hidup boros. Bahkan dalam urusan makanpun kita begitu inefisien. Menurut beberapa literatur manusia cukup bertahan dengan makan 1-2x sehari, sesuai dengan kebutuhan kalori masing-masing. Bahkan beberapa orang telah menerapkan hidup sehat dengan hanya makan 1x sehari. Tapi kita terlanjut membiasakan diri makan 3x sehari bahkan ada yang 4x sehari, maka tak heran banyak diantara kita yang perutnya buncit. Tidak hanya itu, kita juga sering terlalu boros berbelanja pakaian, padahal pakaian yang kita pakai masih bagus, tapi kita terus menerus membeli pakaian dengan model terbaru sehingga memenuhi lemari kita. Padahal kalau kita cermati, salah seorang orang terkaya di dunia saat ini Mark Zuckeberg, pakaiannya itu-itu saja? Sobat sadarkah anda! Mobil yang paling mahal dan yang paling elegan adalah yang paling efisien performanya. Jadi kalau anda mau jadi seorang yang memiliki nilai tinggi dan elegan, jadilah orang yang paling efisien!

 

Tetap Bersyukur, Melihat segala sesuatu dari sudut pandang positif

Sobat, kita harus meyakini bahwa takdir, usia, dan rezeki telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Tak pernah sedetikpun rezeki kita tertukar dengan yang lain. Tugas kita hanyalah berusaha seoptimal mungkin dan berdoa kepada Tuhan supaya apa yang kita usahakan mendapatkan ridha dari-Nya. Jika saat ini anda tengah berusaha keras, namun belum membuahkan hasil. Ingatlah! Thomas Alva Edison baru berhasil pada percobaan ke-1001 setelah mengalami 1000 kali kegagalan dan Kolonel Sanders baru berhasil di usia 65 tahun setelah mengalami 1007 kali penolakan oleh restoran-restoran yang dikunjunginya. Takdir anda akan menghampiri anda sesuai waktu yang telah ditetapkan-Nya. Maka bersabarlah, anda akan mengerti setelah peristiwa demi peristiwa yang tak anda sangka menghampiri anda.

 

So Tetap Positif! Tetap Optimis! Syukuri semua karunia-Nya!
Be Grateful!

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *