Berjuang Tentu Melelahkan

by | Kecerdasan Spiritual

Hai sobat gratefulheart.id dimanapun anda berada! Saya yakin saat ini anda semua sedang berjuang diluar sana. Apapun profesi anda, apapun aktivitas anda, sesungguhnya dalam kehidupan kita selalu memiliki hal-hal yang kita perjuangkan. Seorang Ibu berjuang merawat dan mendidik anaknya, menjaga keutuhan rumah tangganya, bahkan sebagian Ibu juga masih berjuang membantu penghasilan keluarganya. Sobat! Sesungguhnya hidup ini dipenuhi pilihan, kita bisa saja lebih santai dan tak perlu terlalu berjuang, tapi kenapa kita memilih berjuang keras meskipun itu melelahkan? Jawabannya adalah karena kita meyakini bahwa perjuangan kita akan mendapatkan hasil. Jika kita bersantai, mungkin raga kita tidak akan lelah, tidak perlu capek, tapi hasilnya pun kosong, di masa depan kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Tapi dengan berjuang dan terus berjuang, kita meyakini suatu saat ada hal yang akan kita peroleh. Suatu yang kita impikan, suatu visi yang kita tuju. Seorang Ibu merawat dan mendidik anakknya dengan baik, karena yakin suatu saat anaknya akan menjadi orang yang mampu membahagiakannya. Seorang Ayah berjuang keras mencari nafkah karena ia yakin, nafkah yang ia dapatkan dapat ia gunakan untuk menghidupi dan membahagiakan keluarganya.

Banyak kisah perjuangan yang layak kita jadikan sebagai role model. Bagi wanita terutama kisah seorang Fatimah binti Ubaidillah Azdiyah. Ia terpaksa harus membesarkan anaknya sendiri sejak, anaknya berusia 2 tahun karena suaminya telah meninggal. Di tengah banyak keterbatasan ia berjuang sekuat tenaga untuk membesarkan, merawat, dan mendidik si buah hati. Ia punya satu keinginan yakni supaya anaknya kelak menjadi seorang figur hebat dan bermanfaat bagi banyak orang. Ia bahkan memberanikan diri pindah dari kampung asalnya menuju Mekkah supaya anaknya dapat mendapatkan pendidikan terbaik dari para pengajar terbaik disana. Bertahun-tahun ia jalani kehidupan yang berat dan sulit, sampai anaknya tumbuh dewasa dan menjadi seorang figur yang hebat seperti apa yang dicita-citakannya. Bahkan nama anaknya tak hanya terngiang di negerinya, tapi juga terkenang sampai dengan sekarang. Semua karya-karyanya masih terus dibaca dan dijadikan referensi dari berbagai pakar-pakar ilmu di berbagai pelosok negeri. Ia adalah Muhammad bin Idris atau biasa kita kenal dengan Imam As Syafi’i.

So Sobat, jika kamu masih berjuang saat ini, ingatlah apa yang menjadi cita-cita terbesarmu. Tahanlah sedikit rasa lelah dan sakitmu. Jika kamu tulus dan ikhlas berharap kepada-Nya, berjuang dengan penuh kesungguhan, niscaya Dia akan melapangkan jalan-Nya untukmu.

 

Tetap Semangat, Be Grateful!

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *