Saat Diuji Dengan Sakit

by | Kecerdasan Spiritual

Hari sudah menjelang siang. Saat itu kami masih asyik bermain futsal di lapangan yang kami sewa. Lapangan tak terlalu bagus, karena memang kami berada di daerah perkampungan yang jauh dari perkotaan. Entah kenapa hari itu saya mencetak banyak gol. Membuat adrenalin terpacu kencang. Rekan-rekan menyebut saya Mo Salah, karena baju Liverpool yang saya pakai dan juga kegacoran saya dalam mencetak gol hari itu. Tak terasa 1 jam lebih kami bermain, sehingga kami memutuskan break sejenak. Setelah beberapa menit berselang, keringat sudah mulai mengering, dahaga juga sudah hilang. Kami memutuskan untuk lanjut bermain 1 sesi lagi, karena kami memang menyewa lapangan selama 2 jam. Yang masih kuat lanjut bermain. Selang beberapa menit bermain, saya tak sadar bahwa otot saya sudah mulai kelelahan. Akibat adrenalin yang mengalir deras, saya tetap memaksakan diri menyambar bola liar yang ada di atas kepala saya dengan kaki kanan saya terangkat tinggi dan sedikit gerakan memutar. Tiba-tiba “klek” kaki kiri saya yang menjadi tumpuan seperti ada yang putus atau bergeser. Saya berteriak sejadinya. Rasa ngilu tak tertahan, membuat saya langsung terkapar. Rekan-rekan tim lainnya langsung berusaha menolong, meluruskan kaki saya, saya masih terus mengerang kesakitan sampai beberapa saat. Ketika rasa sakit mereda, akhirnya saya dipapah keluar lapangan, permainan dihentikan. Untung saya masih bisa merasakan kaki saya, meskipun sangat sakit untuk digerakkan, artinya kemungkinan kaki saya tidak patah. Meskipun menahan rasa sakit, saya tetap berusaha mengakhiri pertandingan persahabatan itu dengan gelak tawa, memberi isyarat bahwa saya akan baik-baik saja. Sejak hari itu selama sepekan saya kesulitan berjalan dan duduk bersimpuh. Sehingga saya hanya menggunakan kaki kanan untuk bertumpu ketika duduk bersimpuh.

Waktu berlalu, sebulan lebih sejak kejadian itu, lutut kiri saya masih saja belum bisa kembali seperti sedia kala. Masih ada rasa ngilu yang tersisa dan masih ada rasa sakit ketika saya duduk bersimpuh. Kondisi ini mengharuskan saya periksa ke dokter spesialis orthopedi di rumah sakit. Awalnya saya sempat berpikir, apakah saya tidak bisa berolahraga lagi setelah ini? Padahal olahraga adalah salah satu kegiatan yang paling saya senangi. Saya tidak tahu bagaimana lagi kalau harus berhenti olahraga. Ataukah saya harus operasi? Ternyata hasil MRI menyatakan ada ligamen saya yang robek, dan memang dibutuhkan waktu penyembuhan lama. Sebaiknya dilakukan operasi namun tentunya biayanya tidak sedikit. Dibalik rasa cemas yang saya alami, saya tetap berusaha tak mengeluh. Tetap memaksakan diri tersenyum apapun yang terjadi. Namun pesan yang ingin saya sampaikan bukan itu. Semenjak saya sering ke rumah sakit, untuk kontrol dan melakukan pemeriksaan. Saya bertemu banyak pasien lain yang kondisinya jauh lebih parah daripada saya. Ada yang pakai kursi roda, ada yang dadanya diperban, ada yang tidak bisa jalan, bahkan ada yang hanya bisa berbaring di bed rumah sakit. Saya jadi trenyuh dan malu. Masih banyak orang-orang lain yang kondisinya lebih sulit dari saya, saya mesti bersyukur, hanya diberikan cidera yang jauh lebih ringan dibanding mereka.

Terakhir kali ketika saya kontrol di rumah sakit, kebetulan rumah sakit ini polikliniknya orthopedinya kecil, dan bersebelahan dengan poliklinik bedah dan penyakit dalam. Saya tak sengaja mendengar percakapan para pasien penyakit dalam yang sedang mengobrol. Mereka saling menanyakan penyakit apa yang sedang diderita. Dan kebanyakan dari mereka mengidan penyakit diabetes. Yah memang diabetes identik dengan pola makan, pola hidup. Namun ternyata diabetes juga erat kaitannya dengan kondisi kesehatan mental. Semakin tinggi tingkat stress yang dia alami, hormon kortisol semakin tak terkendali, dan itu adalah pemicu utama penyakit diabetes. So, kawan kita harus belajar mengendalikan diri, supaya tidak cepat stress yah. Selain diabetes, ada pasien lain yang mengidap penyakit lupus atau autoimun. Penyakit tersebut tidak ada obatnya dan tidak bisa disembuhkan. Namun pasien tersebut, masih bisa tersenyum dan tertawa. Bahkan ia juga bisa memberikan support kepada pasien lain yang mungkin penyakitnya tak seberapa dibanding dia. Saya membayangkan, jika saya ada diposisi dia, apakah saya masih bisa memiliki semangat seperti itu? apakah masih bisa tersenyum?

 

So, kawan jika Tuhan masih memberi kesehatan jasmani dan rohani pada diri kita hari ini, Bersyukurlah sebanyak yang kau bisa! Meskipun nanti ketika kita diuji dengan penyakit, tak berarti Tuhan tak sayang dengan kita. Masih banyak orang-orang yang kondisinya jauh lebih sulit dibandingkan dengan kita. Bersyukurlah, kita masih diberikan kemampuan untuk berobat dan ada peluang untuk sembuh. Bayangkan jika kita terkena penyakit yang tak bisa disembuhkan? Artinya hidup kita ibarat diujung benang. Harus bersiap menghadap-Nya kapan saja. Sudah siapkah kita?

Tetap Optimis dan Positif ya! Be Grateful!

1 Comment

  1. Ayu

    Terima kasih sudah diingatkan 🙏🏻

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *