Penulis: Zayyana
Hati kita seringkali menjadi arena pertempuran sunyi, tanpa sadar kita membandingkan citra sempurna yang terlihat dari orang lain dengan setiap kekurangan diri kita. Kita mulai meremehkan diri sendiri dan rasa rendah diri diam-diam menutupi cahaya keunikan yang kita miliki.
Mengapa fisik saya tidak sempurna seperti mereka?, mengapa saya tidak memiliki pencapaian seperti mereka?, mengapa mereka memiliki kehidupan yang seolah-olah tanpa cela?, ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di benak kita.
Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 32 :
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.”
Ketika kita mulai membiasakan diri untuk menghargai anugerah yang diberikan oleh Allah SWT, hidup terasa lebih ringan dijalani. Dari rasa syukur lahirlah kebahagiaan, bukan berarti hidup kita tiba-tiba menjadi sempurna, tapi karna hati mulai mampu menghargai dan mencintai hal-hal kecil yang sebelumnya tak terlihat. Syukur mengajarkan kita bahwa ketenangan datang bukan dari kepemilikan, tetapi dari penerimaan.
Banyak orang pergi ke tempat yang jauh untuk mengejar kebahagiaan padahal kebahagiaan itu sering berdiam di depan mata, menunggu untuk disadari. Bangun dari tidur, udara yang bisa dihirup, senyum dari orang terdekat, tubuh yang masih mampu bergerak, dan waktu yang masih diberikan untuk beraktifitas, itu semua adalah nikmat yang tak ternilai. Begitulah Cara Allah mencintai hamba-Nya dengan memberikan rezeki yang tidak selalu kita minta, memberi kita kekuatan di balik ujian, serta memberi jalan pulang meski kita sering menjauh.
Ketika Allah menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk terbaik, itu berarti kita tidak pernah diciptakan secara sembarangan. Setiap diri membawa nilai, membawa potensi, membawa keindahan yang Allah sendiri akui. Cinta Allah SWT kepadamu mendahului semua cinta yang ada di dunia ini. Jika kita sadar akan hal ini, kita tak akan pernah khawatir dan kita akan sadar bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri.
Rasa syukur juga melatih kita untuk tidak terperangkap dalam penyesalan masa lalu atau ketakutan masa depan. Di saat musibah atau ujian datang, syukur bukan berarti menolak rasa sakit, tetapi membantu hati bertahan meskipun ada bagian yang terasa pahit. Syukur mengubah luka menjadi pelajaran, dan kegagalan menjadi pendewasaan. Akhirnya, bersyukur adalah jalan menuju kebahagiaan yang tidak dapat dibeli. Ia tumbuh dari hati yang mengenal cinta Allah, memahami keindahan penciptaannya, dan memandang hidup sebagai amanah penuh rahmat. Dengan syukur, kita tidak hanya merasa cukup kita merasa dicintai, dijaga, dan diberi kedamaian oleh-Nya.

0 Comments