Saat ini, kita hidup di era modern dengan ritme kehidupan yang begitu cepat, sangat sibuk, dan penuh dengan tuntutan yang luar biasa berat. Di tengah kondisi yang demikian sulit, stress adalah sebuah konsekuensi logis. Salah satu indikator dari tingginya tingkat stres di Indonesia adalah tingginya angka penderita insomnia. Menurut data dari Google, lebih dari 2 juta orang Indonesia mengalami insomnia.
Salah satu penyebab paling awam dari stres adalah kegagalan dalam memenuhi target yang dicanangkan. Bahasa bekennya, realita tak sesuai ekspektasi. Ketika hal ini terjadi, rasanya memang tidak menyenangkan bahkan cenderung menyakitkan. Pertanyaannya, bagaimana cara menyikapi keadaan ini?
Seringkali Ekspektasi Tak Sesuai Realita
Ijinkan saya berbagi pengalaman pribadi saya yang mudah-mudahan cukup bermanfaat untuk Anda baca. Beberapa waktu lalu, di tengah proses penulisan buku pertama, untuk menyemangati diri, saya berekspektasi bahwa dalam waktu singkat setelah buku dirilis, saya akan membagikan beberapa eksemplar untuk beberapa teman yang saya anggap cukup berpengaruh kemudian meminta mereka untuk mempromosikannya di akun media sosial mereka sehingga ada konversi penjualan yang cukup banyak dalam waktu singkat.
Seiring waktu, buku pun jadi dan terbit. Strategi yang sudah saya rencanakan pun saya jalankan, saya membagikan cukup banyak eksemplar untuk cukup banyak orang. Hasilnya, cukup mengecewakan.
Saya kemudian mencoba metode lain yang membutuhkan lebih banyak biaya dengan endorse seorang influencer dengan profil yang menurut saya sesuai untuk mempromosikan buku saya. Hasilnya, nihil. Tak berhenti sampai disini, saya menawarkan kerjasama afiliasi dengan public figure, pun mengalami banyak penolakan.
Saya berada di titik dimana saya sadar bahwa saya gagal mewujudkan ekspektasi menjadi realita, minimal untuk saat ini. Lalu, bagaimana cara untuk menyikapi kondisi yang demikian mengecewakan ini? Apa yang harus saya lakukan saat realita tak sesuai ekspektasi?
Kegagalan adalah Proses Pembelajaran
Ada ungkapan yang kurang lebih begini, kita akan diuji dengan sesuatu yang kita bicarakan atau ajarkan. Di dalam buku Ubah Reaktif Jadi Kreatif, saya mengutip sebuah teori dari Dan Sullivan yang disebut dengan “reverse gap”. Ilustrasinya kurang lebih begini.

Jika kita hanya fokus untuk melihat “kondisi ideal” di masa depan yang belum tercapai, kita akan merasa tertekan dan stres, pasti. Oleh karena itu, kenapa kita tidak mencoba untuk melihat ke arah sebaliknya? Bukankah saat ini, bagaimana pun kondisinya, kita sudah berjalan dan berjalan mendekati “kondisi ideal’ tersebut?
Dalam kegagalan saya hari ini, saya mengingat-ingat kembali berbagai teori tentang kegagalan. Salah satu yang paling inspiratif Stephen McCranie ini.
The master has failed more times than the beginner has even tried.
Ketika kita mengalami kegagalan, kita perlu bersyukur dan menyadari bahwa ini adalah bagian dari proses pembelajaran untuk menjadi lebih baik. Ini adalah jalan yang memang harus ditempuh oleh seseorang yang ingin menjadi master. Dalam buku The World Changer’s Manifesto, Robin Sharma menulis sebuah kalimat yang menurut saya sangat indah dan mungkin perlu Anda baca.
Your pain has purified you. Your stumbles have strengthen you. Your failures have fortified you. It’s all been a brilliant and perfect path, even when you resisted it most.
Apakah tulisan ini melegakan atau justru memuakkan karena Anda sedang merasa sangat menderita?
Baik, saya tidak mau menulis lebih panjang lagi tapi ijinkan saya untuk mengutip satu kalimat dari Fyodor Dostoevsky berikut ini.
There is only one thing that I dread: not to be worthy of my sufferings.
Tetap Bersyukur Apapun Hasilnya
Jadi, jika hari ini Anda merasa sangat menderita akibat kegagalan mewujudkan ekspektasi menjadi realita, berbanggalah! Berbanggalah karena Anda lah orang yang terpilih untuk mengalami penderitaan ini, berbanggalah karena Tuhan percaya bahwa Anda sangat kuat sehingga Dia menghadiahkan penderitaan ini untuk Anda.
Terakhir, kita mesti ingat bahwa gagal hari ini bukan berarti gagal untuk selamanya. Roadster, produk pertama Tesla Motor, proses produksinya terlambat selama beberapa tahun dan menelan biaya hampir 6 kali lipat dari anggaran awal. Gagal mewujudkan ekspektasi pada rencana awal tetapi tetap persisten untuk memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini adalah alasan di balik sukses besar seorang Elon Musk.
So, sudahkah Anda bersyukur hari ini?
Wildan Karim
Penulis Buku Ubah Reaktif Menjadi Kreatif

0 Comments